Kamis, 28 Juli 2016

Stop Eksploitasi Sekarang Juga!


Indonesia merupakan negara sumber dan tujuan perdagangan perempuan dan anak-anak untuk tujuan prostitusi dan ekpolitasi. Fenomena perdagangan orang dewasa ini semakin beragam modusnya. Upaya Perlindungan terhadap korban trafficking dan eksploitasi anak merupakan hal yang kompleks karena harus berurusan dengan berbagai aspek kehidupan. Selama ini masalah trafficking dan eksploitasi anak hanya berfokus pada masalah yang sudah terjadi dan penyelesaian terhadap penanganan kasus. Sementara upaya pencegahan dan pemenuhan terhadap hak anak kurang menjadi perhatian.
Peran masyarakat seperti orangtua, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah sangat dibutuhkan untuk saling membantu menyadarkan pihak-pihak yang berpotensi menjadi sumber tindak pidana perdagangan orang. Sosialisasi mengenai trafficking juga harus rutin diberikan kepada masyarakat berpendidikan maupun bertaraf ekonomi rendah. Hal tersebut guna mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menerima bujukan dan iming-iming orang asing yang menawarkan kehidupan nyaman tanpa pekerjaan jelas.
Perdagangan dan eksploitasi anak ini merupakan bisnis besar yang harus segera diberantas. Kalau masalah ini dibiarkan, maka kita akan kehilangan pribadi penerus yang unggul. Bayangkan satu anak disewakan per harinya Rp 50.000 maka ada 30 anak disewakan, si empunya jasa penyewaan anak tersebut memperoleh keuntungan Rp 1.500.000 setiap harinya. Selama ini aparat penegak hukum lebih banyak menggunakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) untuk menjerat pelaku perdagangan manusia (trafficking) yang jaringannya semakin melebar dengan hukuman yang sangat ringan dan tidak membuat efek jera bagi para pelaku. Data Bareskrim POLRI yang berasal dari seluruh Polda di Indonesia pada tahun 2007-2016 tercatat ada 667 kasus perdagangan orang. Sebagian kasus trafficking hanya 50 persen kasusnya yang diproses jaksa penuntut umum (JPU). Kasus trafficking lainnya yang belum tersentuh hukum pun dikarenakan keluarga korban tidak kooperatif memberikan informasi mengenai pelaku, bahkan mereka cenderung melindungi pelaku.


Meraup Sampah Jadi Berkah


ibu-ibu sedang mengguntingi plastik untuk dikreasikan
Wajah Kartini masa kini. Barangkali pas untuk mewakili sosok wanita cantik berparas sunda kental yang telah berhasil mendirikan rumah kreatif Greena, komunitas pendidikan lingkungan hidup yang berfokus pada pengolahan sampah plastik di Kampung Cisalopa, Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat. “Bermimpi, empati, dan lakukanlah”, ujar Nina Nuraniyah disela percakapan. Teh Nina, begitu sapaan akrabnya, telah merintis Greena sejak 2009 silam. Berawal dari kepedulian, Greena kini telah membantu banyak Ibu-ibu dan remaja sekitar untuk ikut peduli lingkungan dan memanfaatkan sampah plastik menjadi suatu yang berguna. Buah manis yang ia tuai pada masyarakat adalah bukti usaha besar yang patut diapresiasi bagi setiap kalangan. Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah mendedikasikan dirinya untuk lingkungan dan masyarakat. Hidup tak berarti baginya ketimbang harus membiarkan masyarakat larut dalam ketidakpedulian pada lingkungan. Seabrek rutinitas ia lakukan bukan untuk menyibukkan diri, melainkan kecintaannya pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Wanita yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat Konservasi Hutan dan Lingkungan ini sangat menyayangkan ketika melihat masih banyak anak-anak maupun orang dewasa yang enggan memperhatikan kebersihan, salah satunya membuang sampah tidak pada tempatnya. Nina bersama teman-teman tak pernah lelah untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Dimulai dari anak-anak sekolah dasar, Nina mengajarkan mereka untuk dapat memilah sampah plastik yang masih bisa dimanfaatkan untuk berkreasi.
seorang ibu sedang memilah sampah plastik untuk dijahit
Selalu ada jalan bagi yang bersungguh-sungguh. Nampaknya kalimat itu telah menyihir Nina larut dalam kobaran api semangatnya. Akhirnya, bersama teman-teman seperjuangannya dimasa kuliah, Nina rutin mengunjungi sekolah-sekolah dasar untuk mengadakan sosialisasi daur ulang sampah. Di sekolah, setiap anak wajib menyimpan sampah plastik dari bekas snack atau ciki usai makan, maupun botol atau gelas plastik bekas minum. Nantinya, sampah plastik hasil yang dikumpulkan anak-anak tersebut dibawa ke Greena guna dijadikan barang layak pakai seperti tempat anyaman pensil, rajutan tas barang belanjaan, rajutan tas tangan, anyaman taplak meja, maupun anyaman dompet.



kiri: mahasiswi jepang, teh nina 
Usaha yang dibangun dengan dana mandiri ini menargetkan penjualan produknya mencapai 30 buah dalam sebulan. Banyaknya pesanan biasa datang dari beragam institusi pendidikan seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah. Maupun pesanan-pesanan jumlah besar dari kelompok lainnya. Selain pembuatan produk, ibu-ibu dan remaja lainnya juga mendapat jatah sembako bagi yang mengumpulkan 300 lembar plastik bekas seperti plastik indomie, molto, kopi, dan lain-lain dan akan mendapatkan gula atau minyak ¼ liter, begitupun kelipatannya. Usaha ini sangat menarik minat dan antusiasme warga Kampung Cisalopa rt 01/02. Selain karna penjualan produknya yang meningkatkan perekonomian warga, usaha kreatif ini juga dapat membiasakan warga untuk tidak sembarangan membuang sampah sebab masih bisa didaur ulang dan dimanfaatkan. “Saya pengen masyarakat punya kecintaan pada lingkungannya. Peduli dan jeli melihat peluang. Dari kepedulian itu kita bisa ambil dua manfaat sekaligus, yang pertama lingkungan yang bersih karna membuang sampah di tempatnya, yang kedua kita dapat laba dari hasil daur ulang sampah plastik yang kita buat. Dan itu tidak mengganggu waktu luang ibu-ibu dan remaja”, kata Nina.

Nyatanya, buah kepedulian ini terendus hingga ke Negeri Sakura. Tokyo University misalnya. Setiap tahun, ia mengirimkan mahasiswanya magang di Greena. Keberhasilan Nina tak berhenti sampai disini. Ia menargetkan akan memunculkan produk-produk baru guna memperluas pasar. Hingga kini, Greena telah berhasil memasarkan produknya ke wilayah JABODETABEKA dengan rata-rata pendapatan 7 juta per bulannya. Nina mengungkapkan, tujuan penjualan tahun ini bertambah lagi menuju Jepang. 


hasil karya

Dia, Wanita Perkasaku!

Namaku Ina. Aku memiliki dua saudara perempuan. Yang pertama Nana,dan Lala yang kedua. Kami tinggal bersama Mama. Ya. Anak-anak brokenhome. Begitu orang-orang sekitar menyebutnya. Aku dan kedua adikku masih sekolah. Aku masih SMA,Nana SMP,dan Lala adik kecilku masih sekolah dasar. Kami hanya berempat dalam rumah. Rumah yang tak begitu kecil. Namun tak juga besar. Cukup. Untuk kita tinggal sementara. Maklum,ini hanya rumah kontrakan. Kontrakan bekas rumah kita sendiri. Sebab seusai perceraian kedua orang tuaku,rumah ini dijual untuk melunasi hutang-hutang Ayah yang entah apa saja. Bisa dibilang,aku baru merasakan masa-masa genting seperti saat ini. Begitu juga adik-adikku. Sebab dulu kita masih bisa merasakan makan di mal,cafĂ©,dan sejenisnya. Tapi kini,cukup makan dirumah saja. Apa adanya. Mama tak pernah mencontohkan kami sifat tinggi hati. Ia selalu menerapkan bahwa hidup ini terus berputar mengikuti waktunya. Hingga pada akhirnya kita semua akan ditenggelamkan bumi untuk dipertanyakan apa-apa yang telah dimakan selama ini. Semenjak perceraian,biaya hidup kami berantakan. Ayah yang tak memberikan apa-apa dan Mama yang tak bekerja. Saat itulah jiwa pria mama muncul. Untuk menaungi dan menafkahi. Pria mana lagi yang harus ia andalkan untuk bisa menfkahi anak-anaknya? Sebab menikah kembali bukan jalan keluar. Mama mencoba berjualan nasi di Pasar dan menjualkan barang-barang dagangan disana. Hasilnya lumayan,bisa untuk makan hari itu. Perputaran uang memang seperti itu saja. Tak puas,Mama bekerja di rumah tetangga hanya untuk sekedar mencuci baju dan menyetrika. Ada tawaran lainpun Ia  mengiyakan untuk mempacking madu kedalam toples-toples kecil dalam jumlah yang lumayan banyak. Ternyata tenaganya masih ada. Ia berinisiatif untuk memberikan jasa tumpangan motor atau ojeg untuk antar jemput anak-anak sekolah dasar. Begitu seterusnya. 
Hingga pada suatu ketika mama jatuh sakit,dokter bilang Ia terkena Diabetes dan harus dirawat inap. Mama tak sanggup. Kami yang mengantarkannya waktu itu hanya berdoa semoga malaikat kami selalu dimudahkan urusannya dan diberi kesembuhan atas penyakitnya. Mataku berkaca. Mengingat hingga saat itu tak ada kabar dari Ayah. Entahlah. Apalah arti kami untuknya saat itu. Sedang kami benar-benar membutuhkan pertolongan. Sering Aku mencerca Tuhan,mengapa harus keluarga kami yang seperti ini. Astaghfirullah.. Tuhan tak pernah tidur. Sekalipun hambanya sakit dan kesusahan. Kupeluk Nana dan Lala yang masih terlihat lugu. Kebahagiaan yang entah kan seperti apa untuk standar kita nanti. Mama menolak tawaran dokter untuk rawat inap. Ia memilih untuk membeli obat dan diet saja. “Kalau Mama dirawat siapa yang mencari uang buat kalian” Ucap Mama. Sudahlah. Kesedihan ini takkan pernah berhenti sampai kapanpun. Jika kita terlalu larut didalamnya.
Pagi menjelang dan petang beriringan datang. Hari tak pernah berhenti seperti kita yang selalu mencari. Mencari berkah rezeki serta bahagia dari Tuhan. Layaknya manusia lain. Mama melanjutkan aktifitasnya yang sudah tak berjualan nasi lagi. Kini ia berjualan dipasar memasarkan barang dagangan orang. Mama bilang tenaganya terkuras banyak jika berjualan nasi. Akhirnya ia melanjutkan aktifitas dengan ngojeg dan packing madu. Gajinya tak seberapa. Benar-benar cukup untuk makan hari itu saja. Sesekali mama masak ayam goring,sayur sop,dan menu nikmat lainnya untuk kami. Meskipun kondisi Mama yang diharuskan diet,namun mama tak jarang makan makanan anak-anak yang jadi pantangannya. “ya gimana lagi,mama juga bosen dek makan itu aja” Kata Mama setiap kali kita tegur untuk mengontrol diet makanannya. Nana adik pertamaku yang duduk di bangku SMP,selalu menyelipkan uang jajannya untuk keperluan membeli buku. Sering ia rela menghabiskan waktu istirahatnya dikelas hanya untuk menahan rasa lapar dan keinginan membeli makanan ringan atau semacamnya. Pernah ia memintaku untuk membelikannya buku dan peralatan sekolah lain,namun aku tak pernah menurutinya. Ya,uang jajanku saat itu juga tak seberapa. Hanya cukup untuk membeli peralatan dan makan secukupnya. Ya,karena saat itu aku berada di pondok pesantren jadi beban makan dan kebutuhan lain harus benar-benar bisa hemat. Dan Lala,adik kecilku. Ia bahkan hampir tak membelikan uang sakunya untuk membeli makanan ketika istirahat setiap harinya. Ia hanya melihat kawan-kawannya lalu-lalang membeli makanan dan dia hanya diam saja. Karena ia tahu uang saku yang dibawanya bisa untuk membayar uang tunggakan sekolahnya. Andai Ayah tahu,kami benar-benar membutuhkan pertolongannya. Tapi sampai saat itupun Ayah masih tak pernah datang hanya untuk sekedar bertemu dan member uang. Kami kesal. Tapi Mama percaya. Ayah tak meninggalkan kita. Meski kita tak pernah tahu keadannya sama atau tidak. Mama,adalah wanita inspirasi kita,aku dan adik-adik. Kita tak berani meminta banyak terlebih masalah uang. Tapi mama tahu,yang kita inginkan. Saat itulah Mama mulai menggoreng krupuk untuk dijual di warung makan. Sesekali mama menambahkan menu masakannya untuk dititipkan pula. Lumayan. Bisa untuk tambahan uang makan sehari-hari. Pernah Nana dan Lala berinisiatif untuk berjualan sendiri didepan rumah. Ya,sosis bakar ala-ala. Mama membelikannya sosis dipasar dan mereka,adik-adikku menjualnya kepada teman-teman sekitar rumah. Seribu rupiah saja. Tapi itu sudah cukup untuk membuat mereka puas mendapatkan uang hasil jualan ala-alanya untuk uang saku mereka sekolah. Alhamdulillah. Tuhan tak pernah lengah sedetikpun. Mama terus berjuang dan selalu memberikan pesan moralnya pada kami. Terlebih adik-adikku. Ia tak merasakan kebersamaan sepasang orang tua dimasa kecilnya. Lala,sering kali bertanaya padaku,bagaimana Ayah ketika dulu aku kecil. Diajak jalan-jalankah, diajak becandakah, diantarkan sekolahkah, dinina bobokankah? Mataku berkaca. Sesakit itukah yang mereka rasakan. Mama mendengar percakapan kita. Ia menangis. Meminta maaf. Memelukku dan adik-adik. Erat. “Maafkan Mama nak,maafkan. Mama minta maaf belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk kalian. Yang belum bisa menjaga rumah tangganya. Menyakiti hati anak-anaknya. Maafkan Mama nak,maafkan” Kata-kata Mama yang tak bisa kulupakan. Begitu juga Nana dan Lala. Semenjak itu mereka tak pernah mempertanyakan apa dan mengapa. Semua tersimpan dihati. Ya dihati. Kami tahu kami berbeda dengan keluarga dan anak-anak seusia lain. Tapi Mama kami tetap tak ada bandingannya. Ia adalah Ibu dan Ayah bagi kami. Aku,Nana dan Lala. Ayah masih ada. Masih bekerja untuk hidupnya. Mungkin juga untuk anak-anaknya. Tapi Mama tak pernah meninggalkan kita. Meski hanya sesuap nasi hasil ngojeg dan jualan kerupuknya. Ia tetap wanita perkasa dihidupku.


CINTAKU

Oleh: Rizki Fajariyanti

Dalam darahku mengalir rindu dan harapan
Menyibak sejenak sebatang kisah masa lalu
Kau yang kala itu mengantarkanku pulang
Kembali pulang setelah lama pergi
Sukmaku mengejar bayangmu
Hatiku terpatri doa-doa malam
Yang rujukkannya pada namamu
Oh cintaku
Tidakkah kau lihat diri ini menggumpal
Berjalan melayang serupa setan
Meronta lapar menunggu belai suapan
Dari tanganmu yang dulu kubuang
Oh cintaku
Kegilaanku bukan untuk tontonan
Bukan untuk kau lihat atau dibicarakan
Kalau saja aku mati
wajahmulah yang lebih dulu kutemui
Oh cintaku sang purnama hati
Kini langit membungkam pita suaraku
Setelah sekian lama mengurung diri
Lalu akhirnya mati suri


Jakarta, Oktober 2015

CINTA

Dalam hening terucap namamu
Merambat masuk melalui pori-pori
Lalu mengepung rindu disetiap kondisi

Air mata yang memanggilmu
Seolah bicara tentang kesedihan setiap waktu
Seolah bernyanyi dalam ruang kedap udara

Bagian dadaku bergetar mendengar namamu
Bukan menggigil tapi merasakan sesuatu
Letaknya tak tahu tapi rasanya tepat di sela nafasku

Aku berterimakasih untuk siapapun yang menamaimu
Betapa rasa telah menciptakanmu
Satu nama yang tak tertahankan

Begitulah kami memanggilmu
Meski banyak yang terluka
Tapi kami tetap percaya

Jakarta, 22 November 2015


MASA LALU

Dalam gelap aku hanya bisa melihat
Satu waktu saat mengenalmu
Mengenal orang-orang disekitarku
Mengenal luka dan bahagia

Saat terang aku tak bisa melihat
Kejadian waktu lalu saat aku diberi luka
Otakku mengingat
Tapi mata menyuruhku bungkam

Satu masa aku melihat diriku
Berlari menuju kesenangan setelah itu dicampakkan
Aku melihat diriku yang diombang ambingkan perasaan
Aku melihat diriku yang dilanda kekacauan

Satu masa aku melihat diriku
Mencintai seseorang dan diremehkan
Lalu melihat perpisahan panjang
Aku melihat diriku dalam setiap keburukan

Satu masa aku melihat diriku
Diri yang merindukan sentuhan
Dari masa yang menjanjikan
Masa dimana orang menamai bahagia
Satu masa aku melihat diriku
Diolok manusia lainnya hanya karna kebodohan
Diolok hatinya sendiri sebab pembenaran ketololan
Diriku melihat tertawa yang dipertontonkan

Satu masa diriku melihat cinta
Lalu cinta mencampakkan wajahnya kedalam air panas
Dibangunkannya lagi lalu dimasukkan lagi
Bak permainan

Satu masa aku melihat diriku
Punya mimpi tinggi meski otak pas-pasan
Punya tenaga banyak meski ego mengalahkan
Diriku diperbudak keegoan


Jakarta, 22 November 2015

TANAM POHON

Pohon ku tanam
Pohon kau tanam
Rumah kita banyak pepohonan
Rumah kita rindang dan elegan

Pohon tabungan kesehatan
Pohon sumber kehidupan
Tak perlu risau akan sakit
Karna pohon obat segala penyakit

Pohon ku tanam
Pohon kau tanam
Agar anak cucu merasakan kehidupan
Agar anak cucu tak mati sesak nafas

Pohon ku tanam
Pohon kau tanam
Sebab uang tak menjamin keselamatan
Sebab uang tak memberi umur panjang