Kamis, 28 Juli 2016

BERSEPEDA

Tinggalkan robotmu naiklah denganku
Mengayuh pedal tak hentikan waktu
Berbincang santai merasakan syahdu
Masa kecil masa bermain kala itu

Tinggalkan minibus naiklah denganku
Tertawa riang lewati trotoar jalanan
Menghirup udara bersantai ria
Mengingat sejenak para pendahulu

Tinggalkan jaguar naiklah denganku
Mengayuh pedal menembus mimpi
Wujud kasih ibu pertiwi
Wujud cinta dari dalam jiwa

Tinggalkan alpard dan saudaranya
Mengayuh sepeda bersama-sama
Mengalun rindu masa lalu
Menuju harapan yang mulia


Ibu

Oleh: Rizki Fajariyanti
Selalu ada doa bagi namamu
Selalu ada alasan kembali pada bahumu

Ibu..
Nyatanya aku ini anakmu
Yang tak mengingat keberadaanmu
Tak mengorbankan nyawa demi hidupmu
Nyatanya aku
Tak pernah membuatmu bahagia
Kau ibu bagi rumah kami
Rumah yang selalu dirundung gelisah
dan amarah anak-anakmu sendiri
Ibu..
Seusiamu kini harusnya aku sadar
Sebagai seorang muda yang berjuang untuk sumpahnya
Menjunjung bahasa dan tanah airnya
Mengabdikan diri dalam langkah dan doanya
Untuk bangsanya
Kau semakin renta ibu
Semakin sakit sebab anak-anakmu tak mengurusi
Yang mereka ingat kau akan mati
Kesenangan adalah obat mujarab
bagi hidup yang tak lama lagi
Sajak ini kuabadikan untukmu Ibu
Yang tak pernah menangis meski anak-anakmu menyakiti
Yang tak pernah pamrih meski kau menafkahi
Yang tak pernah membenci meski kau dihianati
Perangaimu ibu,
Adalah semangat kami anak-anak negerimu
Doakan agar kami tak mati sebelum kau selamat
Dari krisis perjuangan
Kau ibu, pertiwi bagi anak-anakmu.

 Jakarta, 21 Oktober 2015

SAJAK IBU PERTIWI

Oleh: Rizki Fajariyanti

Sajak ini takkan berakhir dari tanganku
Sajak ini takkan mati dari hidupku

Lalu lahirlah aku dari rahim para penyair
Dengan maksud mengabdikan jiwa tanah lahirnya
Berlomba memberi persembahan
sebagai tanda kenangan untuk negerinya
Kalau aku beranjak dan inginkan sesuatu
Sudah pasti tujuanku mengharumkan namamu
Meski pincang kupertahankan
Kelanjutan hidupmu ibu
Sayangnya orang-orang pintar membohongiku
Mereka rampas semua niat baik
Lalu dijadikannya aku kaki tangan otak mereka
Aku sedih bu
Menceritakan pada semua orang yang juga anakmu
bukanlah jalan keluar
malah aku dicaci maki karna kepolosan
mereka bilang aku lugu
mereka bilang aku sok tau
lantas mereka menjauhiku karna tak sama
Ibu..
kuceritakan padamu karena naluri
kericuhan yang melanda anak-anakmu
adalah kenyataan
Bahkan aku tak mampu bicara!
apa dan bagaimana
Lewat sajak ini kusampaikan
beribu doa dan semangat kutangguhkan
sembari memeluk wajahmu yang luka
agar bahagia dan sentosa hidup kita
Sebab sajak tak pernah hianati penyairnya.
Jakarta, 20 Oktober 2015


7 Peran Ibu Ideal dalam Pembentukan Karakter Anak

Keluarga merupakan lembaga sosial terkecil masyarakat yang berperan penting bagi kesejahteraan anggotanya. Pembentukan pribadi seorang anak juga terbentuk sebagaimana lingkungan yang tercipta dalam keluarganya. Menurut Duvall dan Logan (1986), keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi, yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. Dalam keluarga, suami menjadi pemimpin disetiap pengambilan keputusan, dan istri sebagai penyelaras keputusan tersebut. Bicara soal keluarga, pembentukan karakter anak diajarkan melalui ibunya. Peran ibu yang demokratis akan memudahkan penyelesaian problematika anak masa kini. Melalui nalurinya, ibu tahu apa yang harus dilakukan untuk anak-anaknya. Ibu bukan saja menjadi tempat bernaung yang harus dihormati dan menjadi contoh bagi anak-anaknya, namun Ibu juga harus mampu menjadi mitra anak. Sehingga kadangkala ibu harus siap menjadi pendengar yang baik dan setia untuk memberikan kenyamanan dan ketentraman bagi anaknya. Bukan berarti peran ayah tidak penting, melainkan pada diri seorang ibu dicirikan dengan watak teliti, terampil, dan sangat hati-hati yang pas untuk mendampingi anak dalam tumbuh kembangnya. Itu sebabnya ibu selalu menjadi tempat berlindung anak apabila ayahnya sedang  marah atau tidak bersahabat. Kecanggihan teknologi serta beragam budaya baru merasuk cepat melalui lingkungan. Keadaan ini telah merubah sikap seorang anak menjadi tidak peduli dan mengacuhkan lingkungan sekitar. Tujuh peran ibu ideal berikut ini bisa diterapkan oleh para ibu dirumah dikutip dari buku karya Al. Tridhonanto, Mengembangkan Pola Asuh Demokratis yang mampu mengembangkan karakter baik pada anak:
Pertama, bersikap luwes saat dibutuhkan. Seorang ibu menyadari ada saatnya mereka bersikap tidak kaku agar kedekatan pada anak seperti tanpa sekat. Seorang ibu pada waktu ini adalah yang bisa diajak anaknya bercanda, mencurahkan keluh kesah permasalahan, dan menjadi pendengar setia sang anak. Dengan begitu anak akan merasa lega dan menjadikan ibu sebagai pelarian utama mereka saat sedih.
Kedua, menjadi teladan yang baik. Ibu menjadi teladan pertama anak-anaknya. Melakukan kewajiban beribadah, diskusi saat waktu belajar, maupun mengajarkan sopan santun, dapat memengaruhi kebiasaan anak. Bila anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan kebiasaan bermanfaat, maka anak-anak akan mengamalkan nilai yang diajarkan ketika mereka dewasa nanti.
Ketiga, memberi konsekuensi yang jelas atas pelanggaran peraturan. Dengan memastikan konsekuensi tersebut sesuai tingkat pelanggarannya, dan mengandung nilai moral untuk dipelajari. Ibu tak perlu memarahi atau memukul anak ketika mereka berbuat salah. Ibu cukup memberikan peraturan yang telah disepakati bersama anak serta hukuman apa yang akan dijatuhkan ketika anak melanggar peraturan yang telah disepakatinya itu. Hal ini guna membiasakan anak belajar bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya. Anak juga akan tahu dimana letak kesalahannya dan merasa tak patut untuk mengulanginya lagi.
Keempat, membina percakapan ringan dengan anak setiap hari. Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan anak, seorang ibu perlu mengamalkan pendekatan ini. Dengan memberi pujian dalam setiap keberhasilannya dan memberikan kata-kata positif saat mereka berbuat salah. Anak akan lebih memahami dirinya saat ibu mampu menanggapi anak dengan baik. Kata-kata motivasi adalah salah satu kekuatan bagi anak untuk mempelajari masalahnya dan terinspirasi oleh ibunya.
Kelima, menentukan standar perilaku yang jelas dalam kehidupan hariannya. Ibu menerapkan kebiasaan perilaku baik setiap harinya dalam rumah. Namun adakalanya anak belum memahami sepenuhnya mana benar dan salah. Terlebih remaja, seorang ibu bagi anak anak usia remaja ini lebih baiknya menghindari ungkapan ‘jangan’ pada anak. Ibu bisa menunjukkan sesuatu yang benar dengan tanpa paksaan. Pastinya setiap ibu punya cara berbeda-beda dalam hal ini.
Keenam, mengembangkan kemampuan anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Ketika anak jenuh dengan semua yang ibu terapkan, ibu harus sabar menghadapi hal ini. Karena sebenarnya timbal balik dari anak akan lebih lamban terhadap apa yang ibu berikan. Ibu paling mengerti saat situasi seperti ini. Ada baiknya seorang ibu mengalihkan kemarahan dirinya sejenak agar dapat memahami maksud dari apa yang anak inginkan. Anak-anak tidak akan melupakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya, maka dari itu ibu harus sering berkomunikasi tentang apa yang kurang dana apa yang berlebihan bagi mereka, agar tidak terjadi miskomunikasi nantinya. Ketika ada perbedaan pendapat, ibu cukup menjelaskan sebab akibat dari hal yang terjadi beserta alasannya.
Ketujuh, menghargai keunikan anak. Anak-anak dapat tumbuh dan menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan orang tuanya. Setiap anak mempunyai keunikan masing-masing, baik dalam potensi maupun karakter yang tidak bisa disamakan. Saat perbedaan ini muncul, sangatlah penting bagi ibu agar membimbing suaminya untuk menghargai dan menerima perbedaan anaknya tersebut. Justru dengan perbedaanlah cerita keluarga semakin berwarna. Adanya perbedaan tersebut diharapkan tidak merubah keharmonisan keluarga.
Peran ibu sangat dibutuhkan pada pembentukan karakter anak. Ibu harus lebih berhati-hati dalam menempatkan lingkungan anak-anaknya. Kecanggihan teknologi yang digunakan tanpa pengawasan dapat berakibat fatal bagi anak-anak kita, baik berdampak langsung maupun tidak. Peran seorang ibu diharapkan mampu meminimalisir permasalahan tersebut. Bayangkan jika di dunia ini ibu berhasil menanamkan karakter baik pada anak-anaknya, seperti bertanggung jawab, jujur, disiplin, dan penyayang. Mungkin segala kejahatan hanya ada dikhayalan kita. Sayangnya, tidak semua ibu memahami hal itu. Perbedaan pola pikir dalam pengasuhan anak juga menjadi awal masalah yang tidak terselesaikan. Ada seorang ibu membiarkan anak-anaknya berkeliaran di jalanan untuk mengemis atau ngamen. Lebih kejam lagi justru mereka (orang tua) yang menyuruhnya melakukan perilaku buruk tersebut. Hanya berdalih tak cukup uang untuk memenuhi hidup, lalu para orang tua itu mempekerjakan anak-anaknya begitu saja. Adalagi seorang ibu yang membiarkan anaknya di mall seharian hanya dengan memberikannya uang saku untuk bermain, belanja, dan apasaja sesuka hati mereka. Sedangkan ibunya entah sibuk urusan apa. Kebiasaan perilaku seperti inilah yang menjadi awal dari paradigma buruk penerus kita. Mereka fikir hal seperti itu (mengemis, ngamen, belanja, dan lainnya) lumrah dan biasa. Sebab dahulu mereka juga hidup seperti itu. Atau suatu hari mereka sadar namun enggan membenahinya. Mereka mengira itu takdir, jalan hidup, atau sesuatu yang sudah digariskan Tuhan dalam hidupnya. Tidakkah semua itu berangkat dari orang tua yang menanamkan pemikiran keliru pada anak tentang hidup? Hal sepele seperti ini akan berdampak buruk saat dilakukan terus menerus. Para Ibu harus berfikir kritis sejak dini demi kelangsungan hidup putra-putrinya kelak. Sebagai seorang yang paling dekat dengan anaknya, ibu diyakini dapat memberi dukungan moral maupun spiritual pada anak melalui langkah sederhana dan kontinu.


Menyaksikan Langit dari Istana Majapahit

Bak istana diatas awan, gerombolan kabut siang itu seakan ikut meramaikan suasana candi dari kejauhan. Kelabu langit Dusun Cetho tak menyurutkan semangat para wisatawan untuk datang berlibur sekedar menikmati decak kagum pada sang pencipta. Dari ketinggian 1.400 meter diatas permukaan laut ini kita dapat merasakan sejarah terakhir umat Hindu di Pulau Jawa sekaligus saksi bisu peninggalan budaya Hindu abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit.
Warga sekitar menamainya Candi “cetho” . Dari bahasa jawa yang berarti “jelas”. Disini, kita bisa melihat jelas hamparan hijau pemandangan kebun teh kemuning sekaligus penampakan wajah empat gunung sekitar dari kejauhan (Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Gunung Sumbing) dan menyaksikan sunset yang sangat cantik jika disaksikan saat langit tidak berawan dan berkabut. Sampai saat ini, Candi Cetho masih dijadikan tempat beribadah dan pemujaan masyarakat Dusun Cetho yang beragama Hindu. Candi ini terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Cetho, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jalanan berkelok serta tanjakan curam untuk menuju lokasi candi ini, kian menambah syahdu perjalanan kami siang itu.
Gapura Depan Candi Cetho
Sebelum memasuki gapura candi, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp 7000 rupiah untuk wisatawan lokal, dan Rp 25000 rupiah untuk wisatawan mancanegara. Begitu juga dengan harga tiket parkir seharga Rp 3000 rupiah. Setelah membayar tiket masuk candi, pengunjung diberikan kain kampuh (semacam selendang batik corak kotak-kotak hitam putih) untuk dipakaikan dengan cara diikat dibagian pinggang seperti memakai rok. Penggunaan kain kampuh itu sebagai bentuk penghormatan pengunjung kepada tempat ibadah umat Hindu. Setelah itu, barulah pengunjung masuk melalui undakan tangga utama dan disuguhkan pemandangan wajah gapura setinggi kurang lebih 5 meter yang bersuasanakan Pulau Bali. Tentu saja, bangunan gapura seperti di Pulau Bali ini merupakan ciri khas bentuk candi Hindu pada masa Kerajaan Majapahit.
Bagi wisatawan yang punya jam kerja padat, tenang saja, candi cetho buka setiap hari sejak pukul 09:00 sampai pukul 17:00 WIB. Anda bisa datang kapan saja kecuali saat ada acara rutin atau ritual khusus ibadah. Karena, saat ritual pengunjung tidak bisa leluasa berjalan-jalan mengitari candi seperti hari biasa. Pengunjung hanya bisa menyaksikan ritual tersebut di pelataran. Seperti acara rutin ritus suci upacara Madasiya yang digelar tiap enam bulan sekali pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden. Ritual ini menyuguhkan sesajian bersarankan nasi tumpeng, buah, bunga, air, dan dupa yang memiliki makna jika warga Desa Ceto dan sekitarnya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus memohon agar Krincing Wesi (leluhur masyarakat cetho yang bertapa dipetilasan trap kedua candi) tetap menjaga keselamatan mereka. Masyarakat sekitar juga mempercayai adanya kesialan yang terjadi jika seorang wanita yang sedang haid atau datang bulan melewati arca bulus (kura-kura) pada undakan kedua candi tersebut. Maka, pada awal masuk gapura candi sudah dituliskan “wanita haid dilarang masuk” untuk mengantisipasi ancaman kepercayaan tersebut.
Patung Dewi Saraswati
Rute perjalanan kami berawal dari Kota Solo menggunakan moda transportasi roda dua atau sepeda motor. Selain murah, motor juga sebagai sarana transportasi yang bisa menjangkau segala medan perjalanan. Akses menuju Candi Cetho ini terbilang masih sulit bagi para pengunjung yang berniat menggunakan transportasi umum. Jadi, pengunjung diharuskan membawa kendaraan pribadi untuk dapat sampai ke lokasi wisata candi ini dengan mudah. Bagi warga Solo dan sekitarnya, perjalanan menuju Candi Cetho tentunya tidaklah sulit. Dari Tawangmangu, anda menuju arah Karangpandan, lalu menuju Ngargoyoso. Setelah itu, anda akan lebih mudah menemukan petunjuk arah menuju Candi Cetho. Apalagi, kemajuan teknologi saat ini semakin mempermudah pengunjung menggunakan GPS (Global Positioning System) setiap saat. Jangan khawatir, biaya keseluruhan perjalanan menuju candi cetho dari Solo dan sekitarnya tidak lebih dari Rp 50000 rupiah per orangnya. Bahkan kisaran biaya tersebut masih bisa diminimalisir jika anda membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Nah, bagi para traveler luar kota yang akan pergi bersama rombongan maupun yang lebih suka bersama pasangan saja, menggunakan transportasi kreta adalah pilihan tepat karena anda bisa turun di Stasiun Puwosari yang lebih dekat menuju lokasi. Ada baiknya pula anda siapkan biaya penyewaan mobil atau motor sebelum hari keberangkatan. Banyak rental mobil dan motor yang menawarkan harga murah dalam seharinya. Tentunya, semua informasi itu harus anda cari pada teman dekat atau kerabat yang memahami daerah tersebut. Pergi bersama banyak teman atau rombongan akan lebih menghemat pengeluaran dengan sistem iuran. Dengan menghemat, anda dan teman-teman bisa mempersiapkan agenda untuk mengunjungi lokasi wisata lainnya.
Deras hujan terus mencumbui kami sejak awal perjalanan. Tentunya, segala perlengkapan saat hujan sudah kami persiapkan sebelum keberangkatan. Seperti jas hujan, jaket anti air, raincover untuk tas, sandal anti selip, hingga pakaian ganti jika suatu saat dibutuhkan. Hawa dingin mulai terasa sejak kami memasuki kawasan Dusun Cetho. Suhu udara yang mencapai 15 derajat celcius ini mengingatkan kita untuk membawa perlengkapan baju hangat atau jaket tebal untuk keperluan di lokasi. Kami sarankan juga untuk membawa payung saat musim hujan tiba, karena dilokasi candi tidak menyediakan penyewaan payung saat musim hujan. Derasnya rintik hujan ternayata berjalan beriringan dengan semangat kami untuk tetap fokus menikmati suasana candi. Meski kabut menutupi pemandangan sekitar, Candi Cetho tetap menawan bagi para penikmat kedamaian.
Candi Cetho punya daya magnetis sendiri bagi para wisatawan. Selain karena kita dapat merasakan keberadaan seperti di istana atas awan, kita juga disuguhkan cerita Raja Brawijaya V pada masa kerajaan Majapahit yang melakukan persembunyiannya sebelum moksa ke puncak lawu sebab sedang dikejar oleh Raden Patah dari Demak. Bagi Anda pecinta sejarah, atau gemar mengunjungi lokasi bersejarah, Candi Cetho adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Anda dapat merasakan kehidupan kerajaan pada abad XV atau tahun 1475 Masehi. Jangan khawatir, bagi wisatawan yang kurang menyukai sejarah, Candi Cetho adalah lokasi menarik dan strategis untuk berfoto mode siluet dan menyaksikan keindahan sunset saat rona langit memerah kehitaman sekaligus merasakan euforia menjadi warga kerajaan tertinggi di pulau Jawa. (Ina)

Rabu, 18 Maret 2015

Cinta dan Kesempurnaan Tuhan


Lalu lalang suara motor masih ramai terdengar dari sudut telinga
Wajar saja kontrakan kecil ini hanya berjarak sepuluh meter dari jalan raya
Pagi ini,catatan usang yang lama kutinggalkan mengepul bebas diantara dinding-dinding kamar
Merasakan getaran otak yang setiap malamnya selalu berdenyut lebih kencang dari biasanya
Meraung lemah
Mendesah resah
Menjerit meminta pertolongan
Selalu aku bicarakan bersama Tuhan disini.
Disetiap jeritan dan erangan jalang nurani hati.
Maafkan aku Tuhan. Allah ku Yang Maha Segalanya.
Bahkan sampai detik ini aku masih egois. Sangat egois.
Dengan penuh permintaan tanpa balasan.
Ya. Aku jahat Tuhan.
Sangat jahat.
Merengkuhkan diri dihadapanmu dengan wajah berbalut dusta
Yang sungguh Kau pun benar-benar tahu.
Tuhan, Jika saat itu aku dicaci selalu menyebutMu palsu,
Menurut Mu,apakah saat ini aku masih sama?
Jika iya,apa teguran Mu?
Pagi ini,seorang lelaki menugurku halus.
Berbicara lantang tanpa suara yang terdengar riuh ditelinga.
Tentang cinta. Hal yang selalu diperbincangkan hamba Mu di dunia.
Aku lemah. Tanpa bantuan Mu.
Yang selalu aku khawatirkan.
Yang selalu membuat otak kembali di ayun-ayunkan.
Dengan nikmat Mu,aku lemah.
Perasaan seperti apa bahagia itu Tuhan?
Yang seperti apa cinta Mu itu?
Yang seperti inikah? Atau seperti itu?
Dan tepat ketika Kau rogohkan aku tak bisa menolak.
Tenggorokan yang selalu haus
Serta perut yang selalu lapar.
Lelaki yang bagaimana yang Kau gariskan?
Aku ingin Engkau Allah.
Yang selalu aku agungkan dan kusebut namaNya berkali-kali.
Yang tak pernah menyakiti.
Yang tak pernah mengecewakan.
Yang tak pernah salah.
Yang tak pernah marah jika aku tak berbuat salah.
Yang menegurku ketika lemah.
Yang memelukku ketika sakit.
Yang memperhatikanku ketika engah.
Yang menuntunku ketika jatuh.
Yang ada ketika aku butuh.
Yang memperingatkan ketika salah.
Yang tak pernah dusta akan janji.
Adakah yang lebih baik dari Mu?
Rasuki aku Allah. Dzat Yang Maha Segalanya.
Mabukkan aku dalam kehangatan itu.
Aku mau Allah.
Aku mau.

Jakarta,2 Maret 2015, 00;58


Selasa, 30 Desember 2014

Edelweis Yang Tetap Hidup


(1)
Setahun sudah ia ditinggalkan.
Seorang pria berwajah tampan yang dulu ia pertaruhkan jiwanya.
Edelweis-nama cantik pemberian orang tuannya kala ia dilahirkan.
Berharap ia kan jadi wanita idaman setiap orang.
Dikamar itu ia selalu diam.
Meratapi nasib yang tak pernah usai.
Baginya,hidup hanya sebuah cita-cita di alam mimpi
Yang wujudnya pun tak terlihat.
Teringat saat dulu Andi- kekasih hatinya merayu menjanjikan masa depan.
Diberikannya Edel banyak hadiah.
Tas,buku,dan macam-macam perlengkapan kuliah.
Ya,saat itu Edelweis dibangku perkuliahan dan Andi dengan pekerjaan otomotifnya.
Teramat dicintainya Andi saat itu.
Pria kepercayaan hatinya dan harapan hidupnya kelak.
Begitupun Andi,Edel adalah wanita kesekian yang membuatnya jatuh cinta.
Suatu ketika malam membuat mereka lupa bahwa Tuhan tak pernah tidur mengamati makhluk-makhluknya.
Direbahkannya tubuh edel malam itu
Andi yang tak pernah meminta dan edel yang tak memberi.
Mereka tak pernah tahu apa-apa.
Tapi hati mereka menjerit
Sakit seiring cumbu yang terpuaskan.
Malam itu,edel dibuat lupa oleh cinta yang ia anggap sakral.
Cinta yang ia anggap tak akan pernah meninggalkan hidupnya.
Tapi naas tetap naas.
Andi meninggalkannya jauh dan entah kemana.
Hanya dikamar itu edel ingat.
Baju barunya tergores darah tak nampak
Celana dalamnya tertimbun sperma cinta pujaan hatinya.
Tubuh langsat yang tak terlihat lagi elok perangainya.
Serta jilbab selusuh hati dan jiwanya.
Ia menjerit kesakitan.
Sakit sebab tak berharga lagi yang telah Tuhannya titipkan.
Sakit sebab lelaki yang teramat dicintai,yang menjanjikan hidupnya tlah hangus bersama kobaran api cinta lain.
Kini edel,seonggok daging tak bernilai itu hanya pajangan Tuhan yang masih tersisa.
Hatinya beku.
Dilaluinya hidup tanpa tujuan.
Tanpa harapan masa depan.
(2)
Edel dibesarkan tanpa seorang ayah
Kata ibu,ayahnya pergi meninggalkannya saat masih dikandungan
Entahlah edel merasa hidup ini karma beruntun.
Yang ujungnya pun ia tak tahu.
Edel pergi meninggalkan rumah kediamannya.
Meninggalkan ibu yang merawatnya.
Membiarkan luka itu terus menganga.
Tiba disuatu jalan ia melihat tawaran pekerjaan.
Bekerja di salah satu pertambangan.
Berjalan ia menuju tempat dimana pekerjaan itu ditawarkan.
Edel tak pikir panjang.
Baginya pekerjaan adalah jalan mulus ua bisa melupakan masa kelam.
Setelah melalui proses panjang
Dibawanya edel beserta rombongan wanita lain yang nampak semua sebayanya.
Sesampainya disana edel beserta seluruh wanita-wanita dimasukkan dalam kabin bak barang bekas.
Edel tak paham.
Pekerjaan apa yang kan ia terima nanti.
Setiap wanita dibawanya keluar satu persatu.
Dipolesnya molek bak boneka barbie
Dibelikannya baju mewah,lingerie dan semacamnya.
Begitupun edel.
Ia nampak cantik dibalut gaun tanpa busana.
Semua memperlihatkan kemolekan lekuk tubuhnya.
(3)
Tak ada suara apapun dalam kamar itu.
Edel yang selalu diperintah untuk tetap berada dalam kamar dan melayani semua tamu yang berkunjung kedalamnya.
Yang terdengar hanya edelweis satu!
Edelweis dua! Edelweis tiga! Dan seterusnya.
Tinggal menunggu giliran dimana edel kan menjadi cicipan pertama,kedua,dan setelahnya.
Lelaki beringas yang pertama masuk
Langsung melahapnya bak singa yang kelaparan.
Edel menangis dalam kamarnya.
Diatas kasur ia mengadu.
Haruskah luka tetap menganga?
Haruskah buruk selalu buruk?
Haruskah dirinya pasrah dengan kenyataan?
Kenyataan bahwa ia wanita yang dinobatkan menjadi pekerja seks.
Matanya tak lagi kuat menahan tetes air mata kepedihan.
Hantaman demi hantaman ia rasakan.
Tubuhnya layu selayu bunga yang tak pernah dipertemukan air.
Andi,teringat ia pada kekasih pujaan pertamanya.
Kekasih perdana yang merenggut kehormatannya.
Betapa Tuhan tak menolongku!
Teriak edel disetiap malamnya.
Orang-orang tlah menganggap ia gila.
Dipecatnya ia dari pekerjaan itu.
Edel menghardik dirinya.
Ia menghardik Tuhannya.
Ia mengutuk hidup dan matinya.
Betapa kakinya tak merasakan panas terik matahari.
Ternyata dirinya tlah dijual oleh orang-orang beringas itu.
Sempurna sudah penderitaannya.
(4)
Kini,edel bertemu seorang pria yang mencintainya.
Harun namanya.
Ia menemukan edel terkapar tak sadarkan diri disisi jalan.
Dirawatnya edel dengan penuh kasih.
Ia tak kenal pria baik itu.
Baginya,seluruh lelaki sama saja.
Tapi edel menutup diri. Mengingat tubuhnya tak lagi utuh.
Edel merasakan,Harun adalah pria baik yang menjaga hidup untuk istrinya kelak.
Tuhan,jerit edel keras.
Kau bilang baik kan selalu mendapat baik?
Dan buruk selalu mendapat buruk?
Lalu bagaimana jika aku meminta harun untukku?
Dia baik dan aku buruk.
Tidakkah kau perkenankan aku?
Lalu untuk siapa aku ini Tuhan?
Tak kuasa ia membendung air mata keringnya itu.
Harun selalu datang dan menenangkan.
Andai ia tahu.
Andai ia mengerti. Ratap edel dalam tangis.
Sujudnya khusyuk.
Memohon ampun semoga Tuhan masih berbaik hati memaafkannya.
Memaafkan Andi yang telah meninggalkannya.
Membangunkannya dari mimpi yang tak pernah terungkap.
Sujudnya tak pernah hilang.
Didoakannya Harun harapan barunya.
Disemogakan ia dalam ketidakmungkinannya.
Tuhan mendengar doa Edel.
Siang itu Harun beserta keluarga yang akan melamarnya.
Edelweis nama cantik pemberian orang tuanya.
Berharap hanya bisa ditemukan di kaki gunung sana. Keelokkannya. Keindahannya.
Tapi kini,ia hanya edelweis biasa yang bisa dijumpai banyak orang.
Edel tak bisa membohongi hatinya.
Harun adalah pria baik.
Yang tak pantas untuknya.
Diketuknya pintu kamar edel. Dipanggilnya edel tak ada suara.
Didobraknya pintu kamar dan yang tersisa hanya tubuh bersimbah darah.
Botol botol bensin berserakan kosong.
Mulut ternganga serta mata indah yang tak lagi hidup.
Harun menangis. Menangisi edelweis pujaan hatinya.
Edelweis yang kini tinggal nama.
Ia tlah pergi bersama masa lalu,
Bersama Andi kekasih hidup dalam mimpi panjangnya.
Namun ia tetap hidup dalam tidurnya.